Karena gue bingung mau nulis apa, akhirnya gue copas deh catatan gue di FB
-,-a
TODAY'S LESSON (THURSDAY. MARCH, 10th 2011)
@Translation class #1 meeting
Hari ini (10 Maret 2011) sedikitnya ada beberapa hal, setidaknya pandangan baru yang saya dapat di kelas ini. Di kelas yang jumlah muridnya berkisar 30 orang ini seorang teacher bernama mr. Andre memberi penjelasan tentang apa apa yang dirasa perlu untuk disampaikan di pertemuan pertama kelas Translation itu.
Bahwa menurut pakar bahasa, sejarah bahasa telah mencatat begitu banyaknya jumlah bahasa di seluruh dunia yang dipakai oleh manusia dalam setiap perjalanan peradaban bahasa, yaitu hampir 50.000 bahasa. Hal ini menunjukkan eksistensi manusia di dalam menggunakan bahasa begitu lama dan bervariasi. Karena jumlah bahasa yang sangat banyak dan beraneka ragam, maka pakar bahasa telah mengklasifikasikan ke dalam beberapa bagian yang lebih terkenal dengan istilah rumpun bahasa.
Bahasa yang kita pakai, yaitu bahasa Indonesia, masuk dalam rumpun MALAYO POLENESIAN (EAST INDIES). Rumpun ini mencakup keseluruhan bahasa-bahasa yang digunakan di wilayah Asia terutama Asia Tenggara dan sekitarnya. Sementara bahasa Inggris yang kita pelajari masuk dalam rumpun INDO EUROPEAN. Di ruangan yang berkapasitas besar itu cukup adem, apalagi saya duduk tepat di depan kipas besar. Sulit rasanya menghindari rasa kantuk. Hehe. Tapi penjelasan mr. Andre mengalihkan perhatian saya dari rasa kantuk itu.
Translation atau penerjemahan yang melibatkan setidaknya dua bahasa yang berbeda dibagi menjadi dua:
a. INTERNAL TRANSLATION
yaitu penerjemahan yang hanya melibatkan bahasa satu rumpun.
b. EKSTERNAL TRANSLATION
yaitu penerjemahan yang melibatkan bahasa yang berbeda rumpun.
Tingkat kesulitan penerjemahan eksternal lebih tinggi dari pada internal (penerjemahan bahasa Indonesia-Malaysia lebih mudah dari pada bahasa Indonesia-Inggris) karena di dalam eksternal translation seorang penerjemah harus menghadapi 4 masalah besar di dalam dunia bahasa, yaitu:
1. Vocabulary (lexicon)
2. Structure (syntax)
3. Pronounciation (phonology)
4. Linguistic Culture
Lalu mulailah mr. Andre mengemukakan apa yang menjadi hasil dari pemikirannya selama ia mengenal dunia penerjemahan. Beliau berkata bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa yang prematur dan miskin. Sedangkan bahasa Inggris adalah bahasa yang kaya.
Ada sebuah bagan yang terlalu rumit untuk saya catat di sini. Bagan itu berisi tentang akar-akar bahasa yang masuk dalam kategori Indo-European (yang pernah saya singgung sebelumnya di atas). Ada sekitar 42 bahasa yang menjadi nenek moyang bahasa English modern, yang artinya bahasa Inggris sudah sejak lama lahir dari mulai bahasa Indian, Celtic, Latin, Roumanian, Norwegian, Germanic, hingga sampailah pada Old English, Middle English dan akhirnya Modern English pd abad ke 14.
Kemudian mr. Andre menjabarkan alasan-alasan mengapa beliau berpendapat bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa yang prematur dan miskin:
1. Bahasa Indonesia dikatakan prematur karena bahasa kita ini baru muncul sekitar tahun 1928, dan masih dipengaruhi oleh ejaan Van Ovushen (saya tidak tahu bagaimana penulisannya karena beliau hanya menyebutkan tanpa menuliskannya). Yaitu ejaan seperti Soekarno (u=oe), tjerita (c=tj), dsb. Bahasa Indonesia dengan ejaan yang disempurnakan baru muncul sekitar tahun 70an. Jika dibandingkan dengan bahasa Indonesia, keeksistensian bahasa Inggris jauh ada terlebih dahulu.
Saya sependapat dg mr. Andre dalam hal ini.
2. Miskin=perlu sumbangan
Itulah bahasa Indonesia. Begitu banyak kosa kata yang 'disumbang' dari bahasa lain seperti Inggris, Arab, Belanda, Sansekerta, dll.
Inggris:
. School: Sekolah
. Book: Buku
. Information: Informasi
. Communication: Komunikasi
Arab:
. Kursiyun: Kursi
. Kitabun: Kitab
Belanda:
. De kost: Kost
Sansekerta:
. Panca: Lima
Dan sebagainya
Alasan ini cukup logis, saya kira.
3. Dalam hal stuktur bahasa, bahasa Inggris pun jauh lebih kaya.
Indonesian --> no inflection
English --> high inflection
Inflection/infleksi adalah perubahan bentuk kata kerja.
Dalam bahasa Inggris, kita bisa menjumpainya dalam grammar, yaitu tenses.
Kata kerja 'go' bisa berubah menjadi 'going' dalam present continous atau dalam gerund, bisa menjadi 'went' jika aktifitas tersebut terjadi di masa lampau/simpe past, dan bisa menjadi 'gone' dalam simple perfect/passive voice, atau bisa menjadi 'to go' dalam bentuk infinitive.
Dalam bahasa Indonesia, kata kerja tidak mengalami infleksi/perubahan kata kerja. Meskipun aktifitas tersebut dilakukan sekarang, kemarin, atau nanti, kata kerja tersebut akan tetap sama.
Sampai pembahasan ini saya hanya mengangguk dan mengiyakan statement yang dikemukakan oleh mr. Andre.
Hingga pada akhirnya beliau mengemukakan satu lagi 'kemiskinan' yang dimiliki bahasa Indonesia yang entah mengapa saya tangkap secara implicit beliau justru mengungkapkan kekayaan bahasa Indonesia itu sendiri (setidaknya itu menurut saya). Secara eksplisit memang beliau menjelaskan kemiskinan bahasa Indonesia, tapi secara implisit justru ia menunjukkan kekayaannya, begitulah mungkin singkatnya (sekali lagi ini hanya dari sudut pandang seorang Ivana. Hehe)
4. Berbicara kemiskinan berarti juga berbicara tentang keterbatasan. "Seperti saya" ujar mr. Andre "karena saya punya motor cuma satu, kalau mau pergi mengajar ya pake motor itu. Ke pasar, ke kondangan, ke mana-mana ya pake motor itu juga, karena memang terbatas. Tapi kalau saya punya banyak motor, mau pergi mengajar saya pakai yang merah, ke kondangan pakai yang biru." Begitu pula dengan bahasa Indonesia, dalam hal ini kita menyebutnya one for all (satu untuk semua).
Indonesian vocab (kosa kata bahasa Indonesia): one for all (satu untuk semua)
English vocab (kosa kata bahasa Inggris): one for one (satu untuk satu)
Contoh one for one (English):
Melakukan kesalahan : MAKE mistake
Melakukan kejahatan : COMMIT crime
Melakukan pekerjaan : DO work
Melakukan tugas : CARRY OUT duty
Bahasa Inggris memiliki begitu banyak kosa kata hanya untuk menerjemahkan kata 'melakukan' (dalam bahasa Indonesia) untuk beberapa aktifitas/pekerjaan yang berbeda. Kita tidak bisa menerjemahkan 'melakukan kriminal' dengan 'do crime'. Karena aktifitas 'crime' memiliki vocab tersendiri meski jika diterjemahkan MAKE, COMMIT, DO, CARRY OUT sama-sama mengandung arti 'melakukan'.
Mari bandingkan dengan bahasa Indonesia yang one for all
Contoh one for all dalam bahasa Indonesia
Kata 'BUNGA'.
Karena terbatasnya bahasa Indonesia, kata 'bunga' digunakan dalam berbagai macam kalimat, tidak hanya dalam makna literalnya yaitu sejenis tumbuhan.
. Saya suka bunga berwarna merah.
. Bunga desa
. Bunga bank
. Hatinya berbunga-bunga
Jika diterjemahkan dalam bahasa Inggris, kalimat-kalimat yang menggunakan kata 'bunga' tersebut akan menghasilkan vocab yang berbeda (karena kayanya kosa kata bahasa Inggris):
. I like red FLOWER
. VILLAGE GIRL
. INTEREST
. HAPPY
Tidak ada kata yang sama, bukan?
Dalam contoh-contoh yang ia berikan sebelumnya (salah satu contoh: DAUN, tidak hanya sebagai tumbuhan, tapi bisa digunakan dalam kata/kalimat lain; daun pintu, daun telinga, daun muda, naik daun, dsb) memang tidak saya sadari, tapi sampai pada satu contoh yang ia jelaskan terakhir, yaitu 'hatinya berbunga-bunga' tiba-tiba muncul pertanyaan dari saya.
“Sir, jika berbicara tentang kemiskinan bahasa Indonesia dilihat dari sudut pandang contoh yang terakhir Anda berikan yaitu 'hatinya berbunga-bunga', bukankah itu sekedar konotasi? Yang pernah saya baca kalau tidak salah termasuk majas hiperbola. Itu kan bukan kata/vocab aslinya. Dalam bahasa Inggris 'hati yang berbunga-bunga' berarti 'happy'. Bahasa Indonesia juga memiliki arti yang sama dengan 'happy' yaitu 'bahagia' atau 'senang'. Singkatnya, ketika orang Inggris ingin mengemukakan perasaan senangnya, mereka paling hanya bisa menggunakan 'happy', 'glad', 'bliss', dsb. Tetapi dalam bahasa Indonesia untuk mengungkapkan perasaan tersebut kita tidak hanya bisa menggunakan kata 'bahagia', 'senang', 'ria' atau 'suka cita', tetapi juga 'hatinya berbunga-bunga' seperti yang tadi Anda contohkan. Bukankah itu sebuah kekayaan? Yang ketika org lain tidak punya dan tidak bisa lakukan sementara kita punya dan bisa melakukannya. Terimakasih."
Lalu mr. Andre menjawab "Itu tergantung dari sudut pandang masing-masing. Banyak orang yang memang menganggap sebuah kekurangan sebagai kelebihan. Ya, mungkin Anda adalah seseorang yang memiliki rasa nasionalisme bahasa yang tinggi "ujarnya sedikit melucu. Ia terdiam sejenak "Ya, saya setuju bahwa itu merupakan satu kekayaan yang dimiliki bahasa Indonesia." Saya tersenyum. "TAPI, jika dibandingkan dengan bahasa lain, dalam hal yang sedang kita diskusikan yaitu bahasa Inggris, bahasa Indonesia adalah bahasa yang prematur dan miskin, karena memiliki konsep one for all. Ya, terimakasih, pertanyaan yang inspiratif."
Saya hanya diam. Tapi dalam diam tersebut muncul pertanyaan lain; apakah untuk mengetahui sebuah kekayaan bahasa harus dilakukan perbandingan dengan bahasa lain terlebih dahulu? Bahasa yang prematur atau dengan kata lain 'baru muncul' bukan berarti tidak memiliki kekayaan tersendiri, bukan?
Seperti contoh di atas, bahasa Indonesia bisa pake kalimat 'Hati yang berbunga-bunga' untuk mengekspresikan kata 'bahagia/senang'. Bahasa Inggris yang notabenenya bahasa Internasional nggak bisa tuh bilang 'My heart is flower-flower' untuk menggantikan kata 'happy'. Hehe. Tapi, ketika masalah ini saya renungkan (halah) dan saya cari tahu lagi di kamar kost yang begitu nyaman dan tentram, sebenarnya bahasa Inggris juga bukannya tidak bisa mengekspresikan sesuatu tanpa menggunakan vocab aslinya loh. Untuk mengekspresikannya mereka juga menggunakan kosa kata lain yang tidak bisa diterjemahkan secara literal (diterjemahkan perkata/dengan makna asli) oleh bahasa Indonesia.
Contoh kata 'NERVOUS' bisa diekspresikan dengan cara/kalimat lain:
. I had butterflies in my stomach
Kita tidak bisa menerjemahkannya seperti ini:
. Saya memiliki kupu-kupu di perutku.
(contoh ini tidak jauh beda dengan kata 'BAHAGIA' yang bisa diekspresikan dengan 'Hati yang berbunga-bunga')
Penggunaan kata 'butterfly' itu bukan dikarenakan miskin bahasa atau kekurangan kosa kata, tapi itu adalah metaphor, salah satu bagian dari Figure of Speech, atau dalam bahasa Indonesia disebut majas.
Sederhananya, coba ubah cara pandang kita terhadap makna 'kekayaan bahasa'. Bukan dilihat dari berapa banyak kosa kata yang dimiliki, tapi seberapa banyak makna atau ekspresi yang terlahir hanya dari sebuah kata. Kalau dari sudut pandang ini, bahasa Indonesia jauh lebih kaya, bukan?
Kalau mr. Andre punya statement seperti itu, saya juga punya statement sendiri; setiap bahasa (globalnya apapun yang ada di dunia ini) memiliki kekayaan masing2.
Menurut Anda?
Note:
Jika kita aplikasikan ke dalam kehidupan sehari-hari, kekayaan tidak bisa hanya dilihat dari satu sudut pandang, bukan hanya terpaut dengan hal-hal yang berbau materi, bukan hanya tentang apa yang orang lain atau kita miliki, tapi apa yang bisa dilakukan. Jika ada sesuatu yang bisa kita lakukan, sedangkan org lain tidak, itulah kekayaan hakiki yang belum tentu bisa dimiliki org lain.
:)
Thanks for your attention.
Mari lestarikan bahasa Indonesia, tp bkn berarti belajar bahasa Inggris ga penting lho.
^_^
Kediri, Saturday-March 12th 2011
06.58 pm